Kenapa Ide Terbaik Sering Berasal dari Gabungan Dua Ide Lama?
Ketika melihat sebuah produk, bisnis, cerita, atau karya yang sangat kreatif, kita sering membayangkan penciptanya mendapatkan sebuah ide yang benar-benar baru.
Seolah-olah suatu malam ia duduk sendirian.
Kemudian:
“Aha!”
Sebuah gagasan yang belum pernah terpikirkan siapa pun tiba-tiba muncul.
Kenyataannya, kreativitas sering bekerja dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Ide baru tidak selalu diciptakan dari nol.
Sering kali kita mengambil beberapa hal yang sudah ada, melihat hubungan di antara keduanya, kemudian menggabungkannya menjadi sesuatu yang terasa baru.
Kreativitas Tidak Selalu Berarti Menciptakan dari Nol
Coba pikirkan smartphone.
Telepon sudah ada.
Kamera sudah ada.
Pemutar musik sudah ada.
Internet sudah ada.
GPS sudah ada.
Touchscreen juga sudah dikembangkan.
Namun ketika berbagai teknologi tersebut digabungkan dan dikembangkan menjadi satu perangkat, muncul kategori produk yang mengubah cara manusia berkomunikasi.
Banyak inovasi bekerja seperti ini.
Komponennya mungkin sudah dikenal.
Yang baru adalah:
kombinasinya.
Dua Ide Lama Bisa Menghasilkan Ide Ketiga
Bayangkan kita memiliki:
Ide A + Ide B
Ketika keduanya bertemu, hasilnya tidak harus sekadar A dan B berdampingan.
Interaksi keduanya dapat menghasilkan:
Ide C.
Di sinilah filosofi one plus one is three menjadi menarik.
Secara matematika tentu:
1 + 1 = 2.
Tetapi dalam kreativitas, dua gagasan dapat menghasilkan nilai tambahan yang sebelumnya tidak ada pada masing-masing gagasan secara terpisah.
Contoh Sederhana: Kamera + Telepon
Dahulu kamera dan telepon merupakan dua perangkat berbeda.
Seseorang ingin menelepon?
Gunakan telepon.
Ingin mengambil foto?
Gunakan kamera.
Ketika fungsi kamera masuk ke dalam telepon, bukan hanya dua perangkat yang digabungkan.
Muncul perilaku baru.
Orang dapat mengambil foto lalu langsung mengirimkannya.
Kemudian muncul media sosial berbasis foto.
Video call.
Live streaming.
QR code.
Visual search.
Satu kombinasi membuka banyak kemungkinan baru.
Kreativitas Sering Berasal dari Pertanyaan “Bagaimana Kalau?”
Salah satu pertanyaan sederhana untuk memicu ide adalah:
“Bagaimana kalau dua hal ini digabung?”
Bagaimana kalau restoran digabung dengan sistem delivery digital?
Bagaimana kalau olahraga digabung dengan game?
Bagaimana kalau belajar bahasa dibuat seperti permainan?
Bagaimana kalau jam tangan digabung dengan sensor kesehatan?
Tidak semua kombinasi menghasilkan sesuatu yang berguna.
Namun pertanyaan tersebut memaksa kita keluar dari struktur yang sudah familiar.
Salah satu cara menemukan ide kreatif adalah berhenti menunggu inspirasi muncul dari ruang kosong dan mulai mencari hubungan antara dua hal yang sebelumnya terlihat tidak berhubungan.
Misalnya kita ingin membuat konsep baru untuk sebuah coffee shop.
Daripada hanya melihat coffee shop lain, coba gabungkan coffee shop dengan konsep berbeda:
coffee shop + library,
coffee shop + coworking,
coffee shop + workshop,
coffee shop + art gallery,
coffee shop + pet space.
Tidak semua ide harus dieksekusi.
Tujuannya adalah menghasilkan kemungkinan.
Ide Aneh Tidak Harus Langsung Dibuang
Ketika brainstorming, kita sering terlalu cepat menjadi editor.
Seseorang mengatakan ide.
Otak langsung menjawab:
“Nggak mungkin.”
“Mahal.”
“Udah pernah ada.”
“Siapa yang mau?”
Padahal tahap menghasilkan ide dan tahap mengevaluasi ide sebaiknya tidak selalu dilakukan bersamaan.
Jika setiap gagasan langsung ditembak jatuh, brainstorming cepat berhenti.
Biarkan beberapa ide buruk hidup sebentar.
Kadang satu ide buruk memiliki satu bagian kecil yang justru sangat berguna.
Ide Buruk Bisa Menjadi Jembatan
Misalnya seseorang mengusulkan:
“Bagaimana kalau restoran nggak punya menu?”
Terdengar tidak praktis.
Namun dari sana muncul pertanyaan:
“Kalau menu berubah setiap hari gimana?”
Kemudian:
“Kalau hanya ada satu menu khusus setiap hari?”
Lalu:
“Bagaimana kalau pelanggan memilih bahan dan chef menentukan hidangannya?”
Ide pertama mungkin tidak pernah digunakan.
Namun tanpa ide tersebut, rangkaian berikutnya mungkin tidak muncul.
Itulah kenapa brainstorming membutuhkan ruang untuk kesalahan.
Jangan Hanya Mencari Inspirasi dari Industri yang Sama
Jika membuat website travel dan hanya melihat website travel lain, kemungkinan besar referensi kita akan sangat mirip.
Coba lihat:
majalah,
game,
museum,
aplikasi musik,
marketplace,
atau bahkan supermarket.
Tanyakan:
Apa yang mereka lakukan dengan baik yang dapat diterapkan di konteks kita?
Ide dari industri berbeda sering terasa lebih segar karena pola tersebut belum terlalu umum digunakan di bidang kita.
Restoran Bisa Belajar dari Game
Game sangat bagus dalam memberikan progress.
Level.
Achievement.
Reward.
Challenge.
Restoran dapat mengambil prinsip tersebut untuk loyalty program.
Misalnya pelanggan mendapatkan progress setiap kunjungan.
Setelah beberapa kali mencoba menu berbeda, ada reward tertentu.
Restoran tidak berubah menjadi video game.
Ia hanya meminjam mekanisme yang terbukti menarik dari bidang lain.
Pendidikan Bisa Belajar dari Entertainment
Materi pendidikan sering menghadapi satu tantangan:
bagaimana mempertahankan perhatian?
Entertainment sudah memikirkan masalah tersebut selama sangat lama.
Cerita menggunakan konflik.
Video menggunakan pacing.
Game menggunakan challenge.
Film menggunakan visual.
Pendidikan dapat meminjam beberapa prinsip tersebut tanpa kehilangan tujuan utamanya.
Inilah contoh bagaimana kombinasi lintas bidang dapat menghasilkan pendekatan baru.
Kreativitas Membutuhkan Bahan Baku
Sulit menggabungkan ide jika kita hanya mengenal sedikit hal.
Karena itu, orang kreatif sering memiliki rasa ingin tahu yang luas.
Mereka membaca.
Menonton.
Mendengarkan.
Berbicara dengan orang.
Mencoba aktivitas.
Mengunjungi tempat.
Belajar topik yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan.
Semakin banyak bahan di dalam pikiran, semakin banyak kemungkinan kombinasi.
Pengalaman yang Tidak Relevan Bisa Menjadi Relevan Nanti
Seseorang belajar fotografi hanya sebagai hobi.
Beberapa tahun kemudian ia bekerja di marketing.
Ternyata pemahamannya mengenai komposisi visual membantu membuat campaign.
Orang lain pernah bekerja di restoran.
Kemudian pindah ke bidang teknologi.
Pengalaman melayani pelanggan membantunya memahami user experience.
Kita tidak selalu tahu kapan sebuah pengetahuan akan berguna.
Kadang hubungan baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Saat mengembangkan ide, jangan hanya bertanya apakah gagasan pertama sudah bagus. Coba pecah ide tersebut menjadi bagian-bagian kecil kemudian lihat bagian mana yang dapat diganti, diperbesar, diperkecil, dibalik, atau digabungkan dengan konsep lain.
Misalnya:
“Kita mau membuat aplikasi belajar.”
Itu masih sangat luas.
Coba tanyakan:
Bagaimana jika dibuat seperti game?
Bagaimana jika durasinya hanya lima menit sehari?
Bagaimana jika pengguna belajar bersama teman?
Bagaimana jika tidak ada video?
Bagaimana jika seluruh pembelajaran dilakukan melalui cerita?
Setiap pertanyaan membuka cabang baru.
Gunakan Teknik “Tambah Satu Hal”
Ambil produk atau ide yang sudah familiar.
Kemudian tambahkan satu elemen.
Contoh:
Notebook + QR code
QR code dapat membuka video atau file digital.
Restoran + live cooking
Pengalaman makan berubah menjadi hiburan.
Buku + komunitas
Pembaca tidak hanya membaca tetapi dapat berdiskusi.
Gym + kompetisi
Workout mendapatkan unsur sosial dan challenge.
Satu tambahan dapat mengubah pengalaman keseluruhan.
Coba Teknik “Hilangkan Satu Hal”
Kreativitas tidak selalu datang dari menambah.
Kadang justru menghapus.
Apa yang terjadi jika hotel tidak memiliki resepsionis tradisional?
Apa yang terjadi jika restoran tidak memiliki meja?
Apa yang terjadi jika kursus tidak memiliki kelas satu jam?
Apa yang terjadi jika aplikasi tidak membutuhkan password?
Menghilangkan satu bagian memaksa kita memikirkan cara sistem bekerja kembali.
Kadang solusi menjadi lebih sederhana.
Balik Asumsinya
Setiap industri memiliki asumsi.
Hotel memiliki kamar.
Restoran memiliki menu.
Sekolah memiliki kelas.
Toko memiliki stok.
Media memiliki editor.
Sekarang tanyakan:
Bagaimana kalau kebalikannya?
Tidak semua jawaban masuk akal.
Tetapi membalik asumsi membantu menemukan bagian sistem yang sebenarnya tidak wajib.
Beberapa inovasi muncul ketika seseorang mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap normal.
Constraint Justru Bisa Membantu Kreativitas
Bayangkan diminta:
“Buat apa saja.”
Sulit.
Kemungkinannya terlalu banyak.
Sekarang:
“Buat iklan 15 detik hanya menggunakan satu ruangan dan satu aktor.”
Tiba-tiba otak memiliki batas.
Constraint memberikan masalah yang lebih jelas untuk diselesaikan.
Anggaran kecil.
Waktu pendek.
Ruangan terbatas.
Tim kecil.
Hal-hal tersebut memang dapat menjadi hambatan, tetapi juga memaksa kita mencari solusi yang tidak biasa.
Brainstorming Sendiri dan Bersama Tim Memberikan Hasil Berbeda
Berpikir sendiri memberikan ruang untuk mengeksplorasi gagasan tanpa tekanan sosial.
Namun diskusi dengan orang lain memberikan sesuatu yang berbeda:
perspektif.
Seseorang mengeluarkan Ide A.
Orang lain menambahkan B.
Orang ketiga mengatakan:
“Kalau A dan B digabung gimana?”
Kemudian muncul Ide C yang tidak dimiliki siapa pun sebelumnya.
Di sinilah kolaborasi dapat menghasilkan nilai tambahan.
Orang dengan Latar Belakang Berbeda Bisa Sangat Berguna
Jika semua orang dalam ruangan memiliki pendidikan, pengalaman, dan cara berpikir yang sama, mereka mungkin menghasilkan solusi yang mirip.
Masukkan orang dengan perspektif berbeda.
Designer melihat visual.
Engineer melihat sistem.
Marketer melihat audiens.
Finance melihat biaya.
Customer melihat pengalaman.
Ketika perspektif tersebut bertemu, solusi dapat menjadi lebih lengkap.
Tetapi Terlalu Banyak Pendapat Juga Bisa Menghambat
Kolaborasi bukan berarti setiap keputusan harus dibuat oleh 30 orang.
Semakin banyak orang, semakin banyak kompromi.
Ide yang awalnya tajam dapat menjadi sangat aman karena mencoba menyenangkan semua pihak.
Karena itu, brainstorming dan pengambilan keputusan adalah dua proses berbeda.
Banyak orang dapat memberikan input.
Namun pada akhirnya harus jelas siapa yang menentukan arah.
Jangan Jatuh Cinta pada Ide Pertama
Ide pertama sering terasa bagus karena kita belum memiliki pembanding.
Coba paksa diri menghasilkan:
10 alternatif.
Bahkan jika alternatif ke-6 sampai ke-10 terasa aneh.
Tujuannya bukan menggunakan semuanya.
Kita ingin mendorong otak melewati jawaban yang paling obvious.
Kadang ide pertama tetap menang.
Tidak masalah.
Setidaknya sekarang kita tahu bahwa pilihan tersebut sudah dibandingkan dengan kemungkinan lain.
Simpan Ide yang Belum Terpakai
Tidak semua ide memiliki waktu yang tepat.
Sebuah konsep mungkin terlalu mahal sekarang.
Teknologinya belum tersedia.
Audiens belum siap.
Kita belum memiliki skill untuk mengerjakannya.
Jangan langsung membuangnya.
Buat idea bank.
Catatan sederhana berisi:
ide,
masalah,
referensi,
kalimat,
gambar,
atau pertanyaan menarik.
Beberapa bulan kemudian, dua catatan lama mungkin tiba-tiba saling terhubung.
Berjalan Bisa Membantu Ketika Pikiran Buntu
Kadang memaksa diri menatap layar justru membuat ide semakin sulit keluar.
Berhenti sebentar.
Berjalan.
Mandi.
Minum kopi.
Melakukan pekerjaan ringan.
Ketika perhatian tidak terlalu dipaksa, pikiran dapat membuat hubungan secara lebih bebas.
Bukan berarti semua ide bagus muncul saat santai.
Namun memberikan jarak terkadang membantu kita melihat masalah dari sudut berbeda.
Jangan Menunggu Inspirasi Sempurna
Inspirasi memang menyenangkan ketika muncul.
Tetapi kreativitas yang dapat diandalkan membutuhkan proses.
Kumpulkan bahan.
Tulis kemungkinan.
Gabungkan.
Buang.
Ubah.
Tes.
Perbaiki.
Ulangi.
Ide yang terlihat seperti kilatan inspirasi sering sebenarnya merupakan hasil dari banyak informasi yang sudah lama berada di kepala.
Ide Belum Memiliki Nilai Besar Sampai Diuji
Kita dapat memiliki konsep yang terdengar luar biasa di atas kertas.
Namun dunia nyata memberikan feedback.
Apakah orang memahami?
Apakah mereka membutuhkan?
Apakah terlalu mahal?
Apakah terlalu rumit?
Apakah masalah yang kita bayangkan memang ada?
Prototype kecil dapat menjawab pertanyaan tersebut jauh lebih cepat daripada berbulan-bulan berdebat.
Buat Versi Terkecil dari Ide
Tidak perlu langsung membangun semuanya.
Jika ingin membuat bisnis, tes penawarannya.
Jika ingin membuat aplikasi, buat prototype.
Jika ingin menulis buku, buat satu artikel.
Jika ingin membuat channel, produksi beberapa video.
Versi kecil memberikan data.
Kita dapat mengetahui apakah ide layak dikembangkan sebelum menginvestasikan terlalu banyak waktu.
Feedback Bukan Berarti Semua Saran Harus Diikuti
Ketika menunjukkan ide kepada lima orang, kita mungkin mendapatkan lima pendapat berbeda.
Jangan langsung mengubah semuanya.
Cari pola.
Jika satu orang bingung, mungkin hanya preferensi.
Jika delapan dari sepuluh orang bingung pada bagian yang sama, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Feedback adalah informasi.
Keputusan tetap membutuhkan penilaian.
Kreativitas Lebih Dekat dengan Lego daripada Petir
Kita sering menggambarkan ide sebagai petir:
BOOM — inspirasi datang.
Mungkin gambaran yang lebih tepat adalah Lego.
Kita memiliki banyak potongan.
Pengetahuan.
Pengalaman.
Referensi.
Masalah.
Teknologi.
Cerita.
Kemudian kita menyusunnya dengan cara berbeda.
Potongannya mungkin tidak baru.
Tetapi struktur akhirnya bisa menjadi sesuatu yang belum pernah kita buat sebelumnya.
Jangan Takut kalau “Sudah Pernah Ada”
Hampir setiap ide memiliki sesuatu yang mirip sebelumnya.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
Apa yang kita lakukan secara berbeda?
Audiens berbeda?
Eksekusi lebih sederhana?
Harga berbeda?
Teknologi baru?
Pengalaman lebih baik?
Dua restoran sama-sama menjual pizza tetapi dapat memiliki bisnis yang sangat berbeda.
Originalitas tidak selalu berarti tidak memiliki pendahulu.
Ide Bagus Sering Berada di Antara Dua Dunia
Teknologi + seni.
Pendidikan + game.
Fitness + komunitas.
Finance + automation.
Travel + remote work.
Musik + social media.
Ketika dua dunia bertemu, kita dapat membawa aturan dari satu bidang ke bidang lainnya.
Dan dari pertemuan tersebut sering muncul sesuatu yang terasa baru.
Jadi Kalau Lagi Kehabisan Ide, Jangan Menatap Kertas Kosong
Ambil dua hal.
Apa saja.
Tuliskan masing-masing karakteristiknya.
Kemudian tanyakan:
Apa yang terjadi kalau keduanya bertemu?
Sebagian kombinasi akan buruk.
Sebagian lucu.
Sebagian tidak masuk akal.
Tetapi satu di antaranya mungkin membuat kita berhenti sebentar dan berkata:
“Eh… ini sebenarnya bisa.”
Karena kreativitas tidak selalu tentang menemukan sesuatu yang belum pernah ada di dunia.
Sering kali kreativitas hanyalah kemampuan melihat hubungan yang belum diperhatikan orang lain.
Dan ketika dua ide bertemu dengan cara yang tepat, hasil akhirnya dapat memiliki nilai lebih besar daripada keduanya secara terpisah.
Itulah saat ketika, setidaknya dalam dunia kreativitas:
1 + 1 benar-benar bisa terasa seperti 3.